Kematian, dalam makna rindu.


Jadi, apa yang ada di pikiran insan yang sedang merindu?

Ketika mereka bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk pulang.

Ketika mereka melihat kematian sebagai bagian dari suka cita, dan berharap bisa segera berkumpul kembali dengan orang-orang terkasih.

Maka yang hidup pun hanya bisa mengamini dalam doa.

Semoga yang saling merindu dipertemukan kembali di SurgaNya.

Tunggu ibu, nak... Gandeng ibu ya sayang...

Rindu tanpa tepi.

Dia adalah telaga, tangisan pilu yang tak bersuara.

Dia adalah malam, yang tak mampu lagi mendustakan duka.

Dia adalah hujan, yang tak mampu lagi menahan rindu.

Dia adalah luka, yang berusaha kuat untuk tetap utuh melindungi yang tersisa.

Dia adalah senja, yang menenggelamkan dirinya agar esok mampu tegak kembali.

...
Apa kabar disana sayang? Ibu rindu. Rindu menggenggam tangan mungilmu. Rindu mendengar celoteh cerdasmu. Rindu mencium aroma tubuhmu. Datanglah sesekali ke mimpi ibu. Bergelayutlah pada ibu dengan riang. Peluk ibu erat2. Seperti kemarin. Ketika raga kita masih di tempat yang sama. Ketika jiwa kita satu. Jadi, datanglah sesekali ke mimpi ibu. 

Karena ibu ,
rindu.

Duka.

Raesya Safeeya Alexandria.
Lahir: 01 April 2014
Wafat: 19 Desember 2018

even in hardship, god's goodness prevails...

mungkin benar. tidak akan ada yang sia-sia. entah itu luka, kecewa, ataupun bahagia. dan mungkin hanya perkara waktu yang akan menunjukkan jalannya. kemana semua ini akan bermuara dan menunjukkan kegunaannya.

jadi mari sekarang kita berpijak pada iman ini. bahwa tidak akan ada yang sia-sia. semua luka yang membekas selama beberapa tahun terakhir ini, semua kecewa yang pernah kugugat pada langit, begitu menguatkanku hari ini. jadi benar, bahwa Tuhan tidak menciptakan gunung-gunung itu menjadi lebih mudah untuk ditaklukkan. tidak sama sekali! yang terjadi adalah, aku menjadi lebih kuat, lebih tegar dalam mendaki rintangan-rintangannya.

Puncak dari kesabaran adalah saat engkau memilih diam, padahal dihatimu ada luka yang sedang berbicara.
Puncak dari kekuatan adalah ketika engkau memilih tersenyum, padahal di matamu ada selaksa air mata yang terbendung.

Happy Birthday to me!

Seharusnya ini jadi hari yang membahagiakan buatku.

Tapi, pagi pun terasa suram. Siang cukup benderang, karena aku yang menyibukkan diri bermain bersama waktu. Dan ketika senja menjemputku pulang... aku tak bisa lari lagi. Aku harus menghadapi kenyataan, bahwa aku hanyalah seorang perempuan yang kesepian.

Luar biasa kesepian.

Sedangkan mereka di luar sana melihat fatamorgana yang jauh berbeda dengan yang ada. Mereka melihat senyum terbaik, keceriaan terhangat, dan kehidupan yang indah.

Tidak, aku tidak lagi berada di masa dimana aku bisa melepas topengku dan menumpahkan beban beratku pada mereka. Aku sampai pada satu titik, bahwa aku tak pantas menunjukkan air mataku pada mereka. Karena mereka yang muda berhak memiliki panutan dan impian indah. Karena mereka yang tua berhak untuk melihatku bahagia di umurnya yang senja.

Jadi disinilah aku. Sendiri. Menangis. Sejadi-jadinya. Bukan untuk meratapi nasib. Hanya untuk membuang duka yang terasa menyesakkan dada. Bahkan menangis pun jadi hal yang mewah buatku. Karena aku tidak bisa melakukannya setiap waktu.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menyentuh pipiku yang basah. Dia memandangku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku semakin tersedu-sedu. Hanya karena merasa makhluk kecil tak berdosa ini takkan memahami apa-apa.

Dan sepersekian detik kemudian, dia mencium pipiku... dan memelukku erat. Membenamkan kepalaku di dadanya yang mungil.

Aku terhenyak. Aku tergugu. Larut dalam pelukan kecilnya yang terasa begitu besar dan menguatkan.

Terimakasih, nak...