apa yang akan kau lakukan jika di suatu pagi yang -tampak- normal, kau terbangun dengan sebuah lubang hitam menganga di dalam dirimu? yes, deep inside you. aku tak tau harus menyebutnya apa. hati? jiwa? apapun itu. yang jelas, itu lah yang kurasakan pagi ini.
aku bersumpah tak ingin terseret ataupun menyeret-nyeret diriku ke dalam lubang itu. terlalu gelap. sepi. dan menakutkan. tapi semua ini bahkan terjadi tanpa aku kehendaki. atau mungkin, memang alam bawah sadarku lah yang menyuarakannya dengan lantang?
maka yang dapat kulakukan di pagi ini hanyalah berguling kembali ke sisi kanan. menghadap ke sisi tembok yang keras dan bisu. dan saat fajar mulai bergelayut, aku berdoa, semoga semuanya akan baik-baik saja.
sayup sayup, aku mendengar sebuah lagu yang tak asing lagi di telingaku:
sisi ruang batinku hampa rindukan pagi.
tercipta nelangsa, merenggut sukma.
tak akan ada yang bisa terganti, ris.
karena kamu akan mencintai orang lain dengan cara yang berbeda. dengan rasa yang berbeda pula.
yang perlu kamu lakukan hanyalah memberikan waktu bagi dirimu sendiri untuk beradaptasi dengan itu semua.
(((((peluk)))))
-bie-
terimakasih, bie. :)
hujan. dengan semua tariannya di bumi.
mengingatkanku padamu.
malam dimana rumah bercat hijau yang biasanya riuh itu begitu tenang, karena hujan membuat mereka malas beranjak.
dulu aku sangat menyukai hujan. karena setiap kali tariannya datang membasahi pijakan kita, kau akan memintaku duduk di teras bersamamu. dan kemudian kita duduk diam mendengarkan nyanyian hujan, sambil menatap jalanan lengang yang basah kuyup. sesekali kau hisap rokok di tanganmu, yang asapnya kau hembuskan jauh-jauh dariku. tak banyak cerita yang kita tuturkan. hanya sepatah dua patah cerita. sisanya hanya genggaman hangat dalam diam. belaian ringan di kepalaku. serta bahumu yang terasa begitu nyaman untukku bersandar.
dan malam ini, hujan meninggalkan sebuah ruang kosong di dadaku. menganga. dan pilu.
karena aku tau, takkan ada lagi kisah tentang kita.
namun aku tau satu yang pasti.
sejauh apapun kehidupan membawaku melangkah.
kau, takkan terganti.



