Bahagiakah engkau?

Bahagiakah engkau? Dengan dia yang menjadi cinta pertamamu? Sesuaikah dia dengan ekspektasimu?

Aku melihatmu. Dalam mimpiku. Semalam. Ternyata masih pilu. Melihat kalian disana. Bersama anak laki-laki tampan, yang bukan datang dari aliran darahmu. Tapi aku tau, kamu sebergantung itu padanya. Entah karena kamu bergantung kepadanya secara materi. Atau entah kamu benar-benar mencintainya. Aku tak tau alasan yang mana, tapi ternyata hatiku masih pilu.

Aku melewati ruangan kalian. Terus beranjak perlahan. Menyesap dalam-dalam rasa perih. Bahwa aku pernah percaya bahwa kamu mencintaiku. Bahwa aku pernah meletakkan duniaku dan rasaku dengan penuh untukmu.

Kamu mengejarku di sudut selasar mimpiku.  Aku berkata, "Apa yang kau inginkan?". Kamu menjawab lirih, "Aku merindukanmu."

Aku tersedu. "Tapi aku tak tahan melihat kalian disana. Bohong jika aku suka melihat kalian bahagia. Aku pergi saja. Pilih saja yang hatimu mau."

Sambil menunduk, kamu bergegas berjalan di sebelahku sambil berujar, "Aku lebih memilihmu. Aku bisa meninggalkannya untukmu."

Setengah tak percaya, aku terbelalak. Kakiku masih melangkah. Tak tau harus berkata apa. Entah itu benar suara hatimu. Atau entah bibirmu yang sejak dulu pandai mengolah kata. Aku tak tau mana yang dapat kupercaya.

Aku terbangun dari mimpi. Dan hariku masih terasa sendu hingga senja.

Satu inchi.

Sungguh, aku pernah berpikir, bahwa tangan itu akan menggenggamku selamanya. Dia pernah berjanji, dan minta aku buktikan itu. Bahwa dia akan selalu ada disana. Hingga kami menua. Dan aku pernah percaya itu.

Sejak itu, tidak pernah satu inchi pun aku beranjak pergi. Aku masih disana. Tak pernah beranjak selama ribuan hari. Kukira dia duniaku. Kukira dia rumahku. Yang masih selalu dengan riang aku cari dan berlari-lari menggelayut ke arahnya. Kukira dia tempat ternyamanku. 

Sungguh aku bodoh. Betapa aku naif. Meletakkan semua milikku di tempat yang sama bertahun-tahun, dan percaya bahwa dia akan menepati janjinya.

Duniaku terguncang. Melihat tangan yang kupercaya akan selalu menjaga dan menggenggamku, menggenggam tangan yang lain.... dengan mudahnya.

Duniaku berkeping. Menyadari bahwa selama ini aku mengira memiliki rumah... namun ternyata fatamorgana.

Duniaku memudar. Semua kisah yang pernah dia gambarkan untukku... hanya sekedar ilusi.

Aku masih membeku. Disini. Ternganga. Tak percaya. Karena aku pernah sungguh-sungguh mempercayainya. Sungguh aku berharap aku bermimpi. Tapi kenyataan menamparku dengan keras. Sangat keras.

Aku memandangi koper-koperku. Yang nyaris semua kuletakkan di tempat yang kuanggap rumah. Aku tergugu. Harus kukemanakan semua kotak-kotak ini? Semuanya masih penuh dengan memori dan harapan. Untuk mengeluarkan dan membuangnya pun, tidak bisa sekaligus. Tanganku akan penuh memar dan darah untuk mengeluarkan itu semua... dari tempat yang kuanggap rumah.


Aku memandangi rumah kosong itu. Dan koper-koper usangku. Pandanganku kabur. Aku tersedu-sedu. Aku harus pergi kemana? Apa yang harus aku lakukan? Tubuhku limbung.


Aku mengusap dinding-dindingnya perlahan. Pilu. Aku masih mengingat tekstur rambutnya di tanganku. Aku masih mengingat jelas massa otot lengannya di gayutanku. Aku masih mengingat bahu lebarnya di sisi kanan kepalaku. Aku masih mengingat punggungnya yang selalu kupeluk dalam boncengan. Aku masih mengingat kaki kokohnya yang selalu berjalan menemaniku. Aku masih mengingat dengan detil semua ruas jari tangannya yang hangat. Aku masih bisa mengingat dengan detil semua jengkal tubuhnya...


Hujanku semakin deras.


Apa yang harus kulakukan dengan kota itu? Semua sudut tempat memiliki jejaknya. Jejak kami. Terlalu menyakitkan untuk kembali kesana. Namun tidak bisa terhindarkan untuk tidak pergi kesana.


Aku bersimpuh menggigil. Ketakutan. Dan penuh luka. Sendirian.


Aku bergumam. Aku harus beranjak, bukan? Tempatku bukan disini. Aku menguatkan diri untuk mundur 1 inchi. Lalu kembali terduduk. Dan menangis.

Aku menatap nanar wajah penuh hujanku di pantulan cermin, dan berkata: "Terimakasih, telah menguatkan diri untuk beranjak pergi, meski hanya satu inchi. Terimakasih, telah bertahan selama itu, di tempat yang sama. Bertahun-tahun lamanya. Terimakasih, tidak pernah berubah sedikitpun selama itu. Kamu hebat. Terimakasih ya."

Aku kembali tergugu dan menatap bola mata cokelat di pantulan cerminku. Menghiburnya kembali dengan berkata: "Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa. Menangislah lagi, jika itu bisa menyembuhkanmu. Tapi besok, kita beranjak lagi pelan-pelan ya... Meski hanya satu inci lagi, tidak apa-apa. Akan tiba masanya, kamu akan meninggalkan rumah itu dengan sempurna. Mungkin bukan sekarang. Tapi pasti suatu hari nanti."


Advice to myself

Dear me,


Everything changes, but you.

So what do you expect by staying the same?

Because nobody stays the same.

Because everything changes.

Because everyone changes.

So,

Don't hurt yourself by staying the same.

Don't rely your home on someone.

Stop crying for a home that hasn't been there anymore.

Wake up big girl. Let's move on.

Tidak ada yang tersisa disini. Puing-puing ini bukan rumah. Hanya fatamorgana yang kamu pikir nyata.

Perjalanan empat derajat celcius

Empat derajat celcius. Dalam sebuah van hitam. Seorang wanita dari Vietnam duduk di sebelahku sepanjang perjalanan hari ini. Dia bercerita tentang liku-liku hidupnya yang tidak mudah. Aku mengamini, karena aku percaya, sesungguhnya setiap orang memiliki perjuangan dan peperangan hidup masing-masing. Yes, everyone is struggling the war that we might not know. So, instead of judging, try another way: understanding. And be kind to others.

Aku menggenggam tangannya, hingga dia mengucapkan sepatah kalimat di tengah kisah peperangan hidupnya: "I can become a child whenever I'm with him".

It hit me. Hard. All of sudden.

Aku menggigil. Mantel tebal yang kukenakan terasa tipis. Temperatur udara luar yang semakin menurun terasa menembus winter stockingku yang sudah kukenakan hingga dua lapis. Semua yang kusimpan dengan rapi di planet kecil itu, tiba-tiba berhamburan keluar. Membuncah dengan carut marut rasa yang sulit diterjemahkan. Mataku menatap nanar jalanan lengang dari balik kaca mobil van hitam kami. Bulir-bulir air yang menetes di sudut mataku, membuatku terhenyak. Gadis ini sedang bercerita. Namun aku yang menangis. Dia meyakinkanku dengan berkata: "I'm okay, Riris".

Aku mengangguk, sembari bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku menangisi kisahnya? Ataukah aku menangisi kisahku sendiri? Aku melepaskan genggaman tanganku darinya perlahan. Mengambil selembar tisu, dan menata kembali kotak pandoraku kembali.

Jauh di palung terdalam, aku bergumam;
I know how it exactly felt to spin around like a child. Safely. No matter how many times I bumped into each corner. I know I will be safe with him.

Lagi. Untuk kesekian kalinya, aku berbisik pada Tuhan. Tolong. Kumohon. Tolong aku, dengan segala kekacauan ini. 

Burung gereja, mimpi, dan doa yang mengangkasa.

Pagi ini. Aku membuka tirai dan jendela. Aku menengadah. Langit hari ini begitu biru dan bersih.
Aku perlahan berdiri. Memperhatikan betapa hijaunya rumput-rumput di depan kamarku, yang mungkin tampak diam. Namun sesungguhnya dia sedang berjuang untuk hidup dan memayungi ribuan makhluk kecil lain di bawah sana.
Di kejauhan, burung gereja berlompatan kesana kemari. Mematuk-matuk entah apa. Sesuatu yang bahkan tidak bisa terlihat oleh mata telanjangku. Namun sangat jelas Tuhan mengirimkan rezeki untuk mereka yang berupaya keluar dari sarangnya, meski harus berangkat dengan perut kosong. Tuhan mencukupkan rezeki mereka semua untuk pulang dengan perut kenyang, sesuai janjiNya. Sungguh. Tuhan penuh belas kasih dan penyayang. Ar Rahman, Ar Rahiim.

Aku menerawang. Menilik mimpi-mimpi dan doa-doaku yang mengangkasa. Diantara kapasitas logikaku yang begitu kerdil, aku sungguh buta. Tidak mengerti. Bagiamana caraku menggapai itu semua. Namun belajar dari rumput hijau dan burung-burung gereja pagi ini, aku tau, yang perlu kulakukan hanya berdiri, dan melangkah. Lakukan apa yang bisa kulakukan semaksimal mungkin, dengan semua karunia yang Tuhan titipkan kepadaku. Dengan segala kelemahanku sebagai makhluk-Nya, aku percayakan pada Tuhan untuk menuntunku dan menyelesaikan ceritanya.

Maka kubuka peti mimpi-mimpiku. Kubenahi kembali niatku. Kususun kembali kepingan mimpiku. Kubulatkan kembali azzamku. Aku tidak tau bagaimana caranya. Aku tidak tau bagaimana cara memulainya. Aku tidak tau bagaimana akhirnya. Yang kutau, Rabb-ku selalu membersamaiku. Semoga Allah ridha.

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Aku menjejakkan langkah-langkah kecilku.

Kamar kosong.

Ingatanku melayang ke hari itu. Hari pertama menginap di RS Kanker Dharmais... Dan Raesya kecil yang ada dalam pelukanku.

Sepanjang siang aku berusaha tetap riang untuk meringankan gelisahnya. Sementara rekan sekamarnya, yang hanya berjarak 1 meter, sedang dalam kondisi koma dan bersiap utk berpulang.

Malam itu, aku dan Raesya berpelukan diiringi denyut mesin monitor rekan sekamar yg bunyinya menggelisahkan. Aku nyaris tidak mampu terpejam. Berdoa, semoga bunyi monitor itu stabil dan dia mampu bertahan. Aku termenung, dan berbicara kecil pada Tuhan. Bahwa aku lemah. Aku takut. Aku tidak berdaya. Tubuh yang sedang kupeluk saat itu, terasa bukan menjadi kuasaku. Aku menyesap aroma kepala Raesya dalam-dalam ketika dia mulai terlelap. Aku ingin mencium wangi tubuhnya lebih lama lagi Tuhan. Aku merintih. Memohon.

Keesokan harinya, rekan sekamarnya dibawa pulang atas permintaan sang ibu. Mereka ingin sang putri berpulang di rumah, di tengah-tengah keluarga.

Di malam kedua itu, aku dan Raesya kembali tidur berpelukan dengan kesunyian yang justru terasa lebih menikam. Kami tidur di sebuah kamar dengan 2 bed kosong lainnya. Hening. Kosong. Hampa. Aku kembali termenung, melihat cara Tuhan mengajariku tentang betapa rapuhnya kehidupan di dunia.

Aku kembali mendekap Raesya erat-erat. Aku ingin mencium aroma tubuhnya sepanjang tidurku. Selama Tuhan memberiku waktu.

Ilusi dan kepingan hati

Aku menatap nanar sosok naif itu. Seorang perempuan bertopeng baja yang menangis tersedu-sedu mengais kepingan hatinya.
Aku mengutuk kebodohannya. Apa yang ada di kepalanya? Mengapa begitu mudahnya meletakkan hatinya pada pijakan yg rapuh?

Perempuan itu tiba-tiba membara dengan kemarahannya. Marah karena merasa dikhianati. Marah karena mempercayai ilusi. Marah karena bertahan dan tinggal di tempat yang sama; dan percaya ketika dirinya tidak berubah, maka orang yang dipercayainya pun tidak akan berubah juga. Kotak pandora penuh memori indah yang dia bawa malam itu sungguh indah. Dia berjalan penuh semangat menemui orang yg dipercayainya. Apa lacur, ternyata yang dia temui hanya ilusi.

Hatinya terluka melihat kenyataan bahwa dia bukanlah satu-satunya. Hatinya tersayat mengetahui bahwa dirinya telah dikelabui untuk kesekian kalinya. Hatinya hancur lebur mengingat dia telah menyerahkan jiwa, raga, bahkan martabatnya, kepada orang yang dia pikir paling memahaminya.
Namun, apa haknya untuk marah? Karena sesungguhnya perempuan itu juga bukan siapa-siapa. Tak punya hak atas apapun pada sosok yang dipercayainya. Sekejap kemudian, aku terbelalak ngeri, melihatnya mencakar-cakar tubuhnya. Menghukum raganya sendiri, dengan amarah yang kian memuncak.
 
Aku terdiam. Tak berani mendekat. Perempuan bertopeng baja itu sungguh terlihat menyedihkan.


Sekujur tubuhnya telah compang-camping dengan darah. Tangannya tak lagi berdaya untuk melukai dirinya sendiri. Terduduk di sudut ruangan, dia menunduk dengan tatapan kosong.

Aku mendekat. Duduk perlahan disebelahnya. Diam. Hening. Tak satupun bersuara.

Aku mengamati kaki-kakinya yang ramping namun kokoh. Sudah berapa lama dia menahan semua beban itu di kakinya? Aku meraih jari jemari tangannya perlahan. Tangan kecil yang selalu berusaha membawa semuanya sendiri, karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Aku membelai perlahan kepalanya. Yang penuh dengan jaring-jaring pikiran yang selalu disimpannya sendiri.
"Tidak apa-apa", bisikku.

Perempuan bertopeng baja itu pun kembali terisak. Aku menatap iba. Kepingan hati yang dipungutinya sungguh telah hancur. Aku sendiri pun tak yakin bagaimana cara membantunya utk menyusun semua kepingan itu kembali. Perempuan ini sungguh tak punya apa2 lagi yg tersisa.

Aku membelai kembali kepalanya seraya berbisik,
"Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Tuhan itu baik. Sungguh baik. Kamu percaya itu kan?"
Dia mengangguk lemah.

Aku meyakinkannya. "Benar, tetaplah percaya pada Tuhanmu. Apa yang kau terima hari ini, karena baiknya Tuhan padamu. Tuhan tidak ingin engkau berlarut-larut mempercayai orang yang tak layak kau percayai. Apa jadinya jika engkau telah menghabiskan ratusan purnama demi dirinya? Tuhan tahu hatimu terlalu berharga untuk seekor serigala berbulu domba. Jadi Tuhan tunjukkan kebenaranNya sesegera mungkin. Sebelum hatimu hilang tak bersisa karena diperdaya."

Mata sendunya menatapku lekat-lekat. Jejak-jejak air mata masih terlihat jelas di pipinya. "Lalu apa yang harus aku lakukan pada serpihan ini?", tanyanya dengan putus asa.

Aku mendekapnya erat-erat. "Aku sendiri pun tak tau", jawabku. "Mungkin, serahkan saja pada Tuhanmu. Percayakan padaNya. Dia yang akan mengurus semuanya."

Tak ada bantahan. Tak ada percakapan lagi sesudahnya. Kami hanya saling diam. Menatap bulan purnama yang samar-samar tertutup awan malam itu.

Kematian, dalam makna rindu.


Jadi, apa yang ada di pikiran insan yang sedang merindu?

Ketika mereka bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk pulang.

Ketika mereka melihat kematian sebagai bagian dari suka cita, dan berharap bisa segera berkumpul kembali dengan orang-orang terkasih.

Maka yang hidup pun hanya bisa mengamini dalam doa.

Semoga yang saling merindu dipertemukan kembali di SurgaNya.

Tunggu ibu, nak... Gandeng ibu ya sayang...

Rindu tanpa tepi.

Dia adalah telaga, tangisan pilu yang tak bersuara.

Dia adalah malam, yang tak mampu lagi mendustakan duka.

Dia adalah hujan, yang tak mampu lagi menahan rindu.

Dia adalah luka, yang berusaha kuat untuk tetap utuh melindungi yang tersisa.

Dia adalah senja, yang menenggelamkan dirinya agar esok mampu tegak kembali.

...
Apa kabar disana sayang? Ibu rindu. Rindu menggenggam tangan mungilmu. Rindu mendengar celoteh cerdasmu. Rindu mencium aroma tubuhmu. Datanglah sesekali ke mimpi ibu. Bergelayutlah pada ibu dengan riang. Peluk ibu erat2. Seperti kemarin. Ketika raga kita masih di tempat yang sama. Ketika jiwa kita satu. Jadi, datanglah sesekali ke mimpi ibu. 

Karena ibu ,
rindu.

Duka.

Raesya Safeeya Alexandria.
Lahir: 01 April 2014
Wafat: 19 Desember 2018

even in hardship, god's goodness prevails...

mungkin benar. tidak akan ada yang sia-sia. entah itu luka, kecewa, ataupun bahagia. dan mungkin hanya perkara waktu yang akan menunjukkan jalannya. kemana semua ini akan bermuara dan menunjukkan kegunaannya.

jadi mari sekarang kita berpijak pada iman ini. bahwa tidak akan ada yang sia-sia. semua luka yang membekas selama beberapa tahun terakhir ini, semua kecewa yang pernah kugugat pada langit, begitu menguatkanku hari ini. jadi benar, bahwa Tuhan tidak menciptakan gunung-gunung itu menjadi lebih mudah untuk ditaklukkan. tidak sama sekali! yang terjadi adalah, aku menjadi lebih kuat, lebih tegar dalam mendaki rintangan-rintangannya.

Puncak dari kesabaran adalah saat engkau memilih diam, padahal dihatimu ada luka yang sedang berbicara.
Puncak dari kekuatan adalah ketika engkau memilih tersenyum, padahal di matamu ada selaksa air mata yang terbendung.

Happy Birthday to me!

Seharusnya ini jadi hari yang membahagiakan buatku.

Tapi, pagi pun terasa suram. Siang cukup benderang, karena aku yang menyibukkan diri bermain bersama waktu. Dan ketika senja menjemputku pulang... aku tak bisa lari lagi. Aku harus menghadapi kenyataan, bahwa aku hanyalah seorang perempuan yang kesepian.

Luar biasa kesepian.

Sedangkan mereka di luar sana melihat fatamorgana yang jauh berbeda dengan yang ada. Mereka melihat senyum terbaik, keceriaan terhangat, dan kehidupan yang indah.

Tidak, aku tidak lagi berada di masa dimana aku bisa melepas topengku dan menumpahkan beban beratku pada mereka. Aku sampai pada satu titik, bahwa aku tak pantas menunjukkan air mataku pada mereka. Karena mereka yang muda berhak memiliki panutan dan impian indah. Karena mereka yang tua berhak untuk melihatku bahagia di umurnya yang senja.

Jadi disinilah aku. Sendiri. Menangis. Sejadi-jadinya. Bukan untuk meratapi nasib. Hanya untuk membuang duka yang terasa menyesakkan dada. Bahkan menangis pun jadi hal yang mewah buatku. Karena aku tidak bisa melakukannya setiap waktu.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menyentuh pipiku yang basah. Dia memandangku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku semakin tersedu-sedu. Hanya karena merasa makhluk kecil tak berdosa ini takkan memahami apa-apa.

Dan sepersekian detik kemudian, dia mencium pipiku... dan memelukku erat. Membenamkan kepalaku di dadanya yang mungil.

Aku terhenyak. Aku tergugu. Larut dalam pelukan kecilnya yang terasa begitu besar dan menguatkan.

Terimakasih, nak...

berbahagialah, semuanya! :)

akhir-akhir ini sering mimpi macem-macem. padahal nggak lagi mikir macem-macem juga.
iya, kubilang macem-macem, karena setiap hari HAMPIR semua orang yang pernah kukenal mampir di mimpiku. mulai dari almarhum kakek, nenek, budhe, pakdhe, om, tante, almarhum saudara, keponakan, teman, almarhumah teman, sahabat, bahkan mantan (ouch!).

baiklah, mungkin ini pengaruh hormon ya. alur mimpinya sih baik-baik aja. cuman rasanya tetep aneh aja. tiap bangun tidur, ada perasaan berbeda yang selalu menghampiri. dan perasaan aneh itu nempeeel terus sampe sore.

untuk almarhum kakek, yang mampir di mimpiku beberapa minggu lalu; "riris senang kakek mampir ke rumah. semoga kakek tenang disana ya.. :)"

untuk hujan, yang mampir di mimpiku beberapa malam yang lalu; "apa kabar? how's life? kenapa kamu mampir dengan jeans belel itu? hehe... masa muda itu memang cepat sekali berlalu ya. :)"

untuk pemilik billabong biru, yang mampir di mimpiku kemarin malam; "semoga kamu bahagia. karena aku pun selalu mengupayakan kebahagiaan itu setiap detiknya."

aku rindu.
berbahagialah, semuanya!

be strong. stay strong.



besi dapat menjadi kuat karena tempaan yang hebat.

mungkin, begitu pula yang terjadi pada manusia.

ada satu titik dimana aku mulai tidak lagi peduli. titik dimana aku terlalu lelah untuk menggugat. tidak ada lagi konfrontasi. tidak ada lagi drama. tidak ada lagi tangisan. bahkan aku terlalu lelah untuk merasa bersedih.

sungguh, ini bukan drama.

saat ini aku hanya terlalu lelah untuk percaya, bahwa suatu hari semuanya akan menjadi lebih baik. i'm just too tired. dan aku lebih memilih untuk menjalaninya, tanpa mempedulikan apa yang sedang terjadi.

di sisi lain, aku cukup lega mengetahui bahwa ada suatu titik dimana aku mampu menjalani ini semua dengan tegar. tanpa tangisan dan kesedihan. 

jadi, biarkan saja dulu seperti ini, ok?

reasons



Domestic violence comes in many forms. The abuser can be emotional cruel, verbally sadistic, and -eventually- physically aggressive.

Wondered why some people stay in that kind of marriage? What motivates a person to stay in a relationship that causes them emotional and even physical pain? I know it's puzzling and hard to imagine. But there are reasons. Reasons that all seem like good reasons to me.

In this marriage, and maybe most abusive marriages, violence doesn't happen daily. There are days or weeks, between episodes of violence. During those peaceful times, he is a very loving and kind person. These peaceful times give me hope that the abuse won't happen again. I realize that the love and affection I receives during this time only ties me more deeply to him. Unbelievably, it's hard to walk away from someone you commit to love. Especially when there is hope for change. No matter how irrational that hope is. :(

I often feel responsible for the abuse and feel that I've failed in some way. Sounds like a nonsense? No, I do feel that. Shame keep me from reaching out and asking for help or telling others what is happening in our marriage.

I don't find it easier to stay and try to break the cycle of violence. But sometimes I believe that reason and logic will change him. It seems fair to give him a second chance. I probably believe that deep down his intentions are good, that he doesn’t mean to hurt me.

Whatever my reasons are, for now, I hope it's worth making the effort to save this marriage.

1/2

trying to live half alive...

Black Hole

apa yang akan kau lakukan jika di suatu pagi yang -tampak- normal, kau terbangun dengan sebuah lubang hitam menganga di dalam dirimu? yes, deep inside you. aku tak tau harus menyebutnya apa. hati? jiwa? apapun itu. yang jelas, itu lah yang kurasakan pagi ini.

aku bersumpah tak ingin terseret ataupun menyeret-nyeret diriku ke dalam lubang itu. terlalu gelap. sepi. dan menakutkan. tapi semua ini bahkan terjadi tanpa aku kehendaki. atau mungkin, memang alam bawah sadarku lah yang menyuarakannya dengan lantang?


maka yang dapat kulakukan di pagi ini hanyalah berguling kembali ke sisi kanan. menghadap ke sisi tembok yang keras dan bisu. dan saat fajar mulai bergelayut, aku berdoa, semoga semuanya akan baik-baik saja.

sayup sayup, aku mendengar sebuah lagu yang tak asing lagi di telingaku:

sisi ruang batinku hampa rindukan pagi.
tercipta nelangsa, merenggut sukma.



moving on. holding on.


hidup terus berjalan. meskipun tidak seperti apa yang kita inginkan, toh aku masih mampu bertahan, bukan? so i keep talking to myself that everything will be fine. maybe not now. but eventually. and all i have to do is just hang on.

empty road

a text from a friend

tak akan ada yang bisa terganti, ris.
karena kamu akan mencintai orang lain dengan cara yang berbeda. dengan rasa yang berbeda pula.
yang perlu kamu lakukan hanyalah memberikan waktu bagi dirimu sendiri untuk beradaptasi dengan itu semua.
(((((peluk)))))

-bie-

terimakasih, bie. :)