even in hardship, god's goodness prevails...

mungkin benar. tidak akan ada yang sia-sia. entah itu luka, kecewa, ataupun bahagia. dan mungkin hanya perkara waktu yang akan menunjukkan jalannya. kemana semua ini akan bermuara dan menunjukkan kegunaannya.

jadi mari sekarang kita berpijak pada iman ini. bahwa tidak akan ada yang sia-sia. semua luka yang membekas selama beberapa tahun terakhir ini, semua kecewa yang pernah kugugat pada langit, begitu menguatkanku hari ini. jadi benar, bahwa Tuhan tidak menciptakan gunung-gunung itu menjadi lebih mudah untuk ditaklukkan. tidak sama sekali! yang terjadi adalah, aku menjadi lebih kuat, lebih tegar dalam mendaki rintangan-rintangannya.

Puncak dari kesabaran adalah saat engkau memilih diam, padahal dihatimu ada luka yang sedang berbicara.
Puncak dari kekuatan adalah ketika engkau memilih tersenyum, padahal di matamu ada selaksa air mata yang terbendung.

Happy Birthday to me!

Seharusnya ini jadi hari yang membahagiakan buatku.

Tapi, pagi pun terasa suram. Siang cukup benderang, karena aku yang menyibukkan diri bermain bersama waktu. Dan ketika senja menjemputku pulang... aku tak bisa lari lagi. Aku harus menghadapi kenyataan, bahwa aku hanyalah seorang perempuan yang kesepian.

Luar biasa kesepian.

Sedangkan mereka di luar sana melihat fatamorgana yang jauh berbeda dengan yang ada. Mereka melihat senyum terbaik, keceriaan terhangat, dan kehidupan yang indah.

Tidak, aku tidak lagi berada di masa dimana aku bisa melepas topengku dan menumpahkan beban beratku pada mereka. Aku sampai pada satu titik, bahwa aku tak pantas menunjukkan air mataku pada mereka. Karena mereka yang muda berhak memiliki panutan dan impian indah. Karena mereka yang tua berhak untuk melihatku bahagia di umurnya yang senja.

Jadi disinilah aku. Sendiri. Menangis. Sejadi-jadinya. Bukan untuk meratapi nasib. Hanya untuk membuang duka yang terasa menyesakkan dada. Bahkan menangis pun jadi hal yang mewah buatku. Karena aku tidak bisa melakukannya setiap waktu.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menyentuh pipiku yang basah. Dia memandangku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku semakin tersedu-sedu. Hanya karena merasa makhluk kecil tak berdosa ini takkan memahami apa-apa.

Dan sepersekian detik kemudian, dia mencium pipiku... dan memelukku erat. Membenamkan kepalaku di dadanya yang mungil.

Aku terhenyak. Aku tergugu. Larut dalam pelukan kecilnya yang terasa begitu besar dan menguatkan.

Terimakasih, nak...

berbahagialah, semuanya! :)

akhir-akhir ini sering mimpi macem-macem. padahal nggak lagi mikir macem-macem juga.
iya, kubilang macem-macem, karena setiap hari HAMPIR semua orang yang pernah kukenal mampir di mimpiku. mulai dari almarhum kakek, nenek, budhe, pakdhe, om, tante, almarhum saudara, keponakan, teman, almarhumah teman, sahabat, bahkan mantan (ouch!).

baiklah, mungkin ini pengaruh hormon ya. alur mimpinya sih baik-baik aja. cuman rasanya tetep aneh aja. tiap bangun tidur, ada perasaan berbeda yang selalu menghampiri. dan perasaan aneh itu nempeeel terus sampe sore.

untuk almarhum kakek, yang mampir di mimpiku beberapa minggu lalu; "riris senang kakek mampir ke rumah. semoga kakek tenang disana ya.. :)"

untuk hujan, yang mampir di mimpiku beberapa malam yang lalu; "apa kabar? how's life? kenapa kamu mampir dengan jeans belel itu? hehe... masa muda itu memang cepat sekali berlalu ya. :)"

untuk pemilik billabong biru, yang mampir di mimpiku kemarin malam; "semoga kamu bahagia. karena aku pun selalu mengupayakan kebahagiaan itu setiap detiknya."

aku rindu.
berbahagialah, semuanya!

be strong. stay strong.



besi dapat menjadi kuat karena tempaan yang hebat.

mungkin, begitu pula yang terjadi pada manusia.

ada satu titik dimana aku mulai tidak lagi peduli. titik dimana aku terlalu lelah untuk menggugat. tidak ada lagi konfrontasi. tidak ada lagi drama. tidak ada lagi tangisan. bahkan aku terlalu lelah untuk merasa bersedih.

sungguh, ini bukan drama.

saat ini aku hanya terlalu lelah untuk percaya, bahwa suatu hari semuanya akan menjadi lebih baik. i'm just too tired. dan aku lebih memilih untuk menjalaninya, tanpa mempedulikan apa yang sedang terjadi.

di sisi lain, aku cukup lega mengetahui bahwa ada suatu titik dimana aku mampu menjalani ini semua dengan tegar. tanpa tangisan dan kesedihan. 

jadi, biarkan saja dulu seperti ini, ok?

reasons



Domestic violence comes in many forms. The abuser can be emotional cruel, verbally sadistic, and -eventually- physically aggressive.

Wondered why some people stay in that kind of marriage? What motivates a person to stay in a relationship that causes them emotional and even physical pain? I know it's puzzling and hard to imagine. But there are reasons. Reasons that all seem like good reasons to me.

In this marriage, and maybe most abusive marriages, violence doesn't happen daily. There are days or weeks, between episodes of violence. During those peaceful times, he is a very loving and kind person. These peaceful times give me hope that the abuse won't happen again. I realize that the love and affection I receives during this time only ties me more deeply to him. Unbelievably, it's hard to walk away from someone you commit to love. Especially when there is hope for change. No matter how irrational that hope is. :(

I often feel responsible for the abuse and feel that I've failed in some way. Sounds like a nonsense? No, I do feel that. Shame keep me from reaching out and asking for help or telling others what is happening in our marriage.

I don't find it easier to stay and try to break the cycle of violence. But sometimes I believe that reason and logic will change him. It seems fair to give him a second chance. I probably believe that deep down his intentions are good, that he doesn’t mean to hurt me.

Whatever my reasons are, for now, I hope it's worth making the effort to save this marriage.