Kerikil ini ternyata lebih tajam dari yang kukira... Kali ini aku justru sendirian di tempat kecil yang biasanya kusebut rumah. No one stand by me. Berusaha dengan tegar menghadapi mereka yang menampik jiwa yang kupilih.
Ah, begitu sulitkah menjalani ini denganmu? Aku ingin memperjuangkanmu. Dan semoga saja engkau pun seseorang yang tepat untuk diperjuangkan..
Bun, please make me sure about you... And i wish my God you stay here... Inside of me...
hidup memang sangat kompleks.
kadang sulit sekali untuk belajar mengerti, bahwa proses hidup memang harus berjalan sesuai alurnya masing-masing. dan setiap orang memiliki proses memahami hidup dengan caranya sendiri. entah dengan akhir yang seperti apa.
hanya saja...
sering kali hati kecilku menangis menerima proses kali ini. haruskah berjalan seperti ini? atau aku mampu membuat pilihan atas hidup yang sedang kujalani?
aku mencintainya. aku ingin membuatnya nyaman. aku ingin memberikan senyum terbaikku untuknya setiap hari. aku ingin membuatnya selalu hangat. dan aku tak pernah sekali pun ingin menyakitinya... sekecil apapun... dan aku ingin selalu belajar mengerti tentangnya. walaupun aku harus menanggalkan egoku untuk pengertian ini.
tapi semua ini tampaknya justru menjadi bumerang buatku...
seringkali aku terdiam dan menangis menerima perlakuan2nya yang begitu egois dan kaku. aku begitu ketakutan menghadapi sifatnya yang selalu keras dan semaunya sendiri. jadi apa yang bisa kudefinisikan tentang damainya hati? karena orang yang paling bisa membuatku bahagia, justru orang yang menorehkan luka terperih...
hingga aku bertanya-tanya, masihkah damai itu tetap ada hingga suatu hari nanti? sanggupkah aku terus bertahan dengan luka ini?
ah, andai saja kamu adalah rumus matematika dengan hasil pasti.
aku ingin menemukan rumus untuk bisa menghadapimu.
ini adalah masa-masa kritis. saat aku harus memutuskan, akan ada dimana aku selanjutnya. humh. semuanya bertumpuk-tumpuk di dalam sini.
argghhh..
kepalaku mau pecah.
bun, do something, please.
find that job. :(
Membaca kembali. Melihat lagi. Membuatku tersadar betapa hidup ini mengalir dengan segala misterinya.
Dulu aku sering bertanya-tanya. Pada tanggal yang sama tahun depan nanti, apa yang sedang kurasakan? Apakah aku akan bahagia? Ataukah aku akan menangis sedih?
Dan hari ini. Seperti hari yang sudah-sudah. Aku masih saja takjub dengan apa yang diterima oleh panca indraku. Betapa tiap bentuk rasa menyisakan jejak yang berbeda.
Aku duduk di depan etalase sebuah blok keramaian. Sudah 18 jam aku disini. Tidak melakukan sesuatu yang esensial kecuali menemani. Ya, hanya menemani. Hanya satu kata. Tapi tidak sesederhana kelihatannya. Ada banyak hal yang dilibatkan di dalamnya. Melewati terik matahari, dinginnya malam, hingga menyambut matahari kembali.
Ada diam. Ada kata. Ada rasa. Ada kesabaran ekstra yang harus diberikan untuk bisa bertahan. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi menata rasa. Jika apa yang kita lakukan untuk seseorang yang kita temani, disikapi dengan cara yang menyakitkan. Menjaga untuk bisa tetap tersenyum atau diam menyikapinya.
Menemani.
Menunggu, melayani, berusaha mengerti, dan tentu saja: bersabar. Humh. Seandainya saja dia tau ini bukan pekerjaan yang mudah..
Ah.
Kadang aku merasa begitu sepi.. Dan sendiri.
sudah tiga bulan lebih aku disini.
menghirup embun paginya. meresapi panas teriknya. menikmati sorenya yang indah. (harus berapa kali kukatakan, bahwa sore di kota ini sungguh eksotis?). bahkan untuk jalanan malamnya yang begitu lengang. yang membuatku menggigil biru.
ada banyak hal yang ingin kukatakan tentang tiga bulan terakhir ini. tiga bulan yang banyak merubah hidupku, sikapku, dan cara berpikirku. tapi mungkin diam adalah hal yang paling nyaman untukku saat ini.
ini semua tentang kamu.
aku ingin belajar. aku ingin mengerti. aku ingin memahami.
aku ingin mencintai.
walaupun kita sama2 tak pernah tau, bagaimana potret akhir dari kisah ini.
and you're absolutely right.
"just let it flow, hun..."


