Bun, I miss you that much. I really do. Seandainya saja mereka mau memahami perasaan kita… Kenapa kita harus dipertemukan jika harus dipisahkan seperti ini? Mereka tak pernah mengerti bagaimana kita memperjuangkan semua ini. Mereka hanya mau melihatnya dari luar, tanpa mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.
Aku sedih harus dipaksa meninggalkan kota itu… Walaupun aku tidak mencintai pekerjaan dan manusia2nya, tapi aku sungguh mencintai kota itu. Tempat dimana begitu banyak kenangan pahit dan manis tersimpan dengan rapi. There are too many memories about us in that town. Tidakkah Tuhan melihat ini semua, Bun? Melihat ke dasar hati kita bagaimana kesungguhan ini terbentuk? Melihat ke setiap relung2nya, bagaimana ketulusan ini mengalir? Tidakkah Tuhan melihat ini semua, Bun? Kenapa ini harus terjadi pada kita?
Bun, I wanna be with you…
And my Dearest God… Will you still stand by me? Help us, God… Karena hanya Engkau lah yang kami punya, dari dulu hingga detik ini. Semoga pertolongan-Mu segera datang… You know we really need Your Hands… ~_~
And we pray…
Tuhan, tolong jaga hati kami. Tolong jaga fisik kami. Dan tolong jaga cinta kami. Dalam genggamanMu yang tak tertandingi, oleh apapun itu.
Amin… -_-
Kerikil ini ternyata lebih tajam dari yang kukira... Kali ini aku justru sendirian di tempat kecil yang biasanya kusebut rumah. No one stand by me. Berusaha dengan tegar menghadapi mereka yang menampik jiwa yang kupilih.
Ah, begitu sulitkah menjalani ini denganmu? Aku ingin memperjuangkanmu. Dan semoga saja engkau pun seseorang yang tepat untuk diperjuangkan..
Bun, please make me sure about you... And i wish my God you stay here... Inside of me...
hidup memang sangat kompleks.
kadang sulit sekali untuk belajar mengerti, bahwa proses hidup memang harus berjalan sesuai alurnya masing-masing. dan setiap orang memiliki proses memahami hidup dengan caranya sendiri. entah dengan akhir yang seperti apa.
hanya saja...
sering kali hati kecilku menangis menerima proses kali ini. haruskah berjalan seperti ini? atau aku mampu membuat pilihan atas hidup yang sedang kujalani?
aku mencintainya. aku ingin membuatnya nyaman. aku ingin memberikan senyum terbaikku untuknya setiap hari. aku ingin membuatnya selalu hangat. dan aku tak pernah sekali pun ingin menyakitinya... sekecil apapun... dan aku ingin selalu belajar mengerti tentangnya. walaupun aku harus menanggalkan egoku untuk pengertian ini.
tapi semua ini tampaknya justru menjadi bumerang buatku...
seringkali aku terdiam dan menangis menerima perlakuan2nya yang begitu egois dan kaku. aku begitu ketakutan menghadapi sifatnya yang selalu keras dan semaunya sendiri. jadi apa yang bisa kudefinisikan tentang damainya hati? karena orang yang paling bisa membuatku bahagia, justru orang yang menorehkan luka terperih...
hingga aku bertanya-tanya, masihkah damai itu tetap ada hingga suatu hari nanti? sanggupkah aku terus bertahan dengan luka ini?
ah, andai saja kamu adalah rumus matematika dengan hasil pasti.
aku ingin menemukan rumus untuk bisa menghadapimu.
ini adalah masa-masa kritis. saat aku harus memutuskan, akan ada dimana aku selanjutnya. humh. semuanya bertumpuk-tumpuk di dalam sini.
argghhh..
kepalaku mau pecah.
bun, do something, please.
find that job. :(
Membaca kembali. Melihat lagi. Membuatku tersadar betapa hidup ini mengalir dengan segala misterinya.
Dulu aku sering bertanya-tanya. Pada tanggal yang sama tahun depan nanti, apa yang sedang kurasakan? Apakah aku akan bahagia? Ataukah aku akan menangis sedih?
Dan hari ini. Seperti hari yang sudah-sudah. Aku masih saja takjub dengan apa yang diterima oleh panca indraku. Betapa tiap bentuk rasa menyisakan jejak yang berbeda.
Aku duduk di depan etalase sebuah blok keramaian. Sudah 18 jam aku disini. Tidak melakukan sesuatu yang esensial kecuali menemani. Ya, hanya menemani. Hanya satu kata. Tapi tidak sesederhana kelihatannya. Ada banyak hal yang dilibatkan di dalamnya. Melewati terik matahari, dinginnya malam, hingga menyambut matahari kembali.
Ada diam. Ada kata. Ada rasa. Ada kesabaran ekstra yang harus diberikan untuk bisa bertahan. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi menata rasa. Jika apa yang kita lakukan untuk seseorang yang kita temani, disikapi dengan cara yang menyakitkan. Menjaga untuk bisa tetap tersenyum atau diam menyikapinya.
Menemani.
Menunggu, melayani, berusaha mengerti, dan tentu saja: bersabar. Humh. Seandainya saja dia tau ini bukan pekerjaan yang mudah..
Ah.
Kadang aku merasa begitu sepi.. Dan sendiri.


